Saturday, October 24, 2020

Gaya bicaramu mempegaruhi perkembangan anakmu

 

Gaya bicaramu mempegaruhi perkembangan anakmu

    Impian setiap orang adalah memiliki keluarga yang bahagia. Pada dasarnya keluarga bahagia dapat diwujudkan oleh setiap orang, namun tidaklah mudah.Komunikasi dalam sebuah keluarga merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mewujudkan keluarga yang bahagia. Komunikasi dengan suami/istri, dengan ibu dan ayah, serta komunikasi dengan anak yang jangan dilupakan.

Komunikasi yang efektif dapat ditemukan dalam keluarga yang memilki hubungan erat antara orangtua dengan anak. Bahkan, ini sangat mempengaruhi kualitas kedekatan dan keakraban keluarga. Kedekatan tersebutlah yang membantu terciptanya keharmonisan dalam keluarga. Keharmonisan inilah yang harus selalu dipupuk agar menumbuhkan kebahagian dalam keluarga.

Gaya bicara positif merupakan bagian komunikasi yang efektif. Kualitas komunikasi orangtua terhadap anak sangat mempengaruhi perkembangannya. Oleh karena itu,  sebagai orangtua wajib mengerti dan paham serta memiliki keterampilan komunikasi yang efektif untuk menguatkan hubungannya dengan anak. Gaya bicara orangtua dengan anak sangat penting. Mengapa ? karena:

1. Gaya bicara positif akan menjadikan anak lebih menurut

Berbicara dengan nada dan kata yang lembut cenderung akan lebih didengarkan oleh anak Anda. Tentunya tidak ada orang yang suka jika diajak bicara dengan nada yang tinggi dan kata yang terkesan kasar atau negatif. Begitu juga dengan anak Anda. Bicaralah dengan lembut ke anak Anda.

Dalam al – qur’an Allah mengisahkan tentang nabi Ibrahim. Untuk di ambil contoh oleh kita agar berkata –kata dengan cara yang baik juga lembut. Yaitu ketika dia meminta pendapat kepada anaknya, bahwa Allah memintanya untuk menyembelih anaknya (nabi Ismail). Dia( Ibrahim) berkata:” wahai anakku sesungguhnya aku meliahat dalam mimpi bahwa aku  menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa peandapatmu!” ia menjawab: “wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan keadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang –orang yang sabar”. Qs. Ash- shaffat: 102. 

Kisah diatas merupakan salah satu kisah yang inspiratif dalam  al-qur’an, tentunya massih banyak kisah –kisah yang lain , yang bisa kita ambil ibrohnya.

2.Bicara kasar justru menumbuhkan sikap negatif

Bila Anda berteriak, membentak, atau berbicara dengan kasar pada anak Anda, Anda cenderung tidak mendapatkan hasil yang baik. Bahkan tindakan ini akan merusak hubungan kedekatan orangtua dengan anak.

Penelitian menunjukkan bahwa teriakan pada anak sama buruknya dengan pukulan. Anak Anda tentu akan tetap mendengarkan, tapi mendengarkan karena ia takut. Biasanya tindakan yang seperti ini membuat anak jadi tidak jujur pada orangtua karena takut dimarahi atau dipukul.

Jika Anda ingin anak Anda mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengatur tingkah lakunya sendiri, bicaralah dengan baik dan jelas pada anak Anda.

Bahkan jika anak Anda melakukan kesalahan dan Anda perlu memberi nasihat, suara yang lembut dan tegas akan lebih mendapat perhatian dari anak Anda. Anak akan lebih mendengarkan nada bicara yang seperti itu.

3. Anak belajar dari perilaku orangtuanya

“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Pernah dengar peribahasa ini??? Tentunya kita passti pernah mendengarnya. Ini adalah peribahasa yang sudah lama. Arti dari peribahasa ini adalah sifat anak tidaklah jauh berbeda dengan orangtuanya.

Gaya bicara orangtua dengan anaknya sangatlah penting karena anak belajar berperilaku dengan meniru orangtuanya sendiri. Bagaimana tidak, dari awal kelahirannya, anak  belum bisa bicara dan mengetahui bagaimana perilaku yang baik dan tidak.

Jadi anak akan mengikuti apa yang ia lihat secara langsung. Oleh karena itu, bicaralah dengan sopan dan baik dengan anak dan dengan orang-orang di sekitar Anda. Anak pun akan meniru perilaku ini sampai dewasa kelak.

4. Hubungan dengan anak semakin erat

Bila Anda memperlakukan anak Anda dengan hormat dan baik hati, ini akan memperkuat ikatan Anda dengan buah hati. Anak akan bersikap lebih terbuka pada Anda. Ucapkan “terima kasih” dan “tolong” saat bicara dengan anak Anda, dan beri penjelasan bahwa Anda mengharapkan ia melakukan hal yang sama. Memberi masukan satu sama lain dengan sopan santun dan hormat akan membuat hubungan Anda semakin dekat.

Sedangkan kalau selama ini gaya bicara Anda cenderung kasar atau dingin, anak pun belajar untuk membangun jarak dan pertahanan terhadap diri Anda. Anak justru akan melihat Anda sebagai ancaman yang tidak bisa dipercaya, bukan sosok yang penuh kasih dan melindungi.

 

 

Friday, October 23, 2020

SALAFI dan AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Salah satu di antara ciri khas para pengikut manhaj salaf adalah memiliki semangat yang besar dalam menyebarkan akidah, memberikan pengajaran dan nasehat bagi umat manusia, memberikan peringatan kepada manusia dari segala bentuk bid’ah dan ajaran-ajaran baru, serta berupaya keras untuk membantah orang-orang yang menyimpang dan kaum ahli bid’ah. Setiap perilaku maksiat dan penyimpangan yang dilakukan seorang hamba, pasti akan menghasilkan dampak buruk yang membahayakan, minimal kepada diri mereka para pelakunya sendiri. Apalagi jika kemaksiatan dan penyimpangan itu merupakan sesuatu yang paling dibenci oleh Allah SWT, yakni mempersekutukanya dengan segala sesuatu yang diciptakan-Nya. Tentunya kemurkaan Allah SWT melebihi kemurkaan yang disebabkan kemaksiatan dan kezhaliman lain dari seorang manusia yang masih mungkin dimaklumi dan diampuni-Nya.

 Generasi salaf atau generasi terdahulu tentunya sudahlah tidak asing ditelinga kita. Yang tentunya merupakan teladan bagi umat muslim dalam menjalankan syariat islam itu sendiri. Namun akhir akhir ini kita dibuat bingung dengan munculnya kelompok kelompok yang mengaku ngaku sebagai kelompok yang paling benar, ataupun yang paling sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad yaitu ajaran islam.

Namun pada kenyataan nya dari apa yang kita lihat bahwasanya ada hal-hal yang tentunya tidak selaras dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Seperti halnya sangat mudah sekali untuk mengkafir-kafirkan seseorang. Bukankah kita sebagai manusia tidak berhak menghakimi seseorang karena hanya Allah lah sang pemilik kebenaran yang Hakiki.

Untuk ini disini kami akan sedikit memaparkan apakah itu Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan harapan kita dapat memahami apakah apa yang telah kita pelajari itu sesuai dengan pedoman-pedoman yang dibenarkan dalam islam.

 

1.2  Rumusan Masalah

1.      Pengertian Salafi dan Ahlussunnah Wal Jama’ah ?

2.      Perbendaan Salafi dan Ahlussunnah Wal Jama’ah ?

 

1.3  Tujuan

Memahami apakah itu Ahlussunnah Wal Jama’ah dan Salafi sehingga dapat mengetahui apakah ajaran yang kita amalkan sesuai dengan pedoman-pedoman ajaran Islam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Pengertian Salafi

Wahabi (Wahabiyah, Wahabisme) dan Salafi (Salafiyah, Salafisme) menjadi “trending topics” dalam wacana gerakan Islam akhir-akhir ini. Keduanya digambarkan dalam media-media Barat dan sekuler sebagai kelompok “radikal”, militan, garis keras, atau konotasi negatif lainnya.

Di sisi lain, hampir semua ormas Islam menyatakan diri bermadzhab atau aliran Ahlus Sunnah wal Jamaah.

WAHABI

Nama atau istilah Wahabi tidak lepas dari pemikiran dan perjuangan ulama Arab Saudi, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab. Ia dikenal sebagai ulama pembaharu atau penyeru pemurnian (purifikasi) pemahaman dan pengamalan ajaran Islam.

Ia berdakwah memerangi perilaku syirik, bid’ah, khurafat, dan tahayul di kalangan umat Islam. Abdul Wahab menilai, kemunduran umat Islam terjadi karena mereka sudah jauh dari Islam yang murni, yakni praktik ibadahnya sudah bercampur dengam hal-hal berbau bid’ah, khurafat, dan tahayul yang tidak ada ajarannya dalam Islam.

Muhammad bin Abdul Wahhab (1701 – 1793 M) lahir di Kampung Ainiyah, Najd, Arab Saudi, dari kabilah Bani Tamim. Bukunya bertajuk Kitab al-Tauhid. Para murid dan pendukungnya disebut Wahabi.

Namun, para pendukungnya menolak disebut Wahabi, karena pada dasarnya ajaran Ibnu Wahhab adalah ajaran Nabi Muhammad Saw, bukan ajaran tersendiri. Karenanya, mereka lebih memilih untuk menyebut diri mereka sebagai Salafis atau Muwahhidun, yang berarti “satu Tuhan”.

Ia memberantas khurafat seperti menganggap “keramat” makam para ulama yang dinilai berbahaya bagi tauhid umat. Sikap tegas dan tanpa kompromi dalam masalah akidah membuat ia dikenai banyak tuduhan atau fitnah.

Abdul Wahab wafat tanggal 29 Syawal 1206 H/1793 M, dalam usia 92 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Dar’iyah (Najd). Demikian catatan singkat tentang Wahabi atau Abdul Wahab berdasarkan sumber-sumber yang kami miliki dan yakini kebenarannya.

Salaf, Salafi, Salafy, Salafiyah, atau Salafiyun secara bahasa artinya para pendahulu, generasi awal umat Islam. Generasi Salaf merupakan sebutan bagi para sahabat Rasulullah Saw, yaitu orang-orang beriman yang dekat dan sezaman dengan beliau, dan para pengikut mereka (tabi’in) serta generasi sesudahnya (Tabi’ut Tabi’in). Mereka tiga generasi terbaik umat Muslim dan memberikan contoh bagaimana Islam dipraktekkan.

Para sahabat digelar “khairu ummah”, sebaik-baik manusia. Mereka paling paham agama dan paling baik amalannya. Sabda Rasulullah Saw: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian generasi setelahnya kemudian generasi setelahnya”.

Salaf atau kelompok Salafy adalah mereka berkomitmen di atas Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw.

Istilah Salafy juga biasa dialamatkan kepada Ahlus Sunnah wal Jamaah dikarenakan berpegang teguh kepada Al-Quran dan As-Sunnah.

Kelompok Salafy, pasca generasi awal kaum Muslim itu, tidaklah dibatasi atau ditujukan kepada jamaah organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Jadi, tidak eksklusif atau bukanlah kelompok eksklusif.

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100).

Dalam ayat tersebut Allah SWT tidak mengkhususkan ridha dan jaminan surga-Nya untuk para sahabat Muhajirin dan Anshar semata, tetapi juga bagi orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Ibrahim Madzkur menguraikan karakteristik ulama salaf atau salafiyah sebagai berikut:

1.                   Mereka lebih mendahulukan riwayat (naql) daripada dirayah(aql).

2.                  Dalam persoalan pokok-pokok agama (ushuluddin) dan persoalan-persoalan cabang agama (furu’ad-din), mereka hanya bertolak dari penjelasan Al-Kitab dan As-Sunnah.

3.                  Mereka mengimani Allah tanpa perenungan lebih lanjut (tentang dzat-Nya) dan tidak pula mempunyai faham anthropomorphisme.

4.                  Mereka mengimani ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan makna lahirnya, dan tidak berupaya untuk menakwilkannya.

 

 

 

2.2  Pengertian Ahlussunnah Wal Jama’ah

Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan salah satu dari beberapa aliran Kalam. Adapun ungkapan Ahl al-Sunnah (sering juga disebut dengan sunni) dapat dibedakan menjadi dua pengertian, yaitu umum dan khusus. Sunni dalam pengertian umum adalah lawan kelompok Syi’ah. Dalam pengertian ini, Mu’tazilah sebagaimana Asy’ariyah masuk dalam barisan Sunni. Sementara Sunni dalam pengertian khusus adalah madzhab yang berada dalam barisan Asy’ariyah dan merupakan lawan dari Mu’tazilah. Pengertian yang kedua inilah yang dipakai dalam pembahasan ini.

Ahlussunnah Wal Jama’ah merupakan gabungan dari kata ahl assunnah dan ahl al-jama’ah. 2 Dalam bahasa Arab, kata ahl berarti “pemeluk aliran/ mazhab” (asha>b al-mazhabi), jika kata tersebut dikaitkan dengan aliran/ madzhab. Kata al-Sunah sendiri disamping mempunyai arti al-hadits, juga berarti “perilaku”, baik terpuji maupun tercela. Kata ini berasal dari kata sannan yang artinya “jalan”.

Selanjutnya mengenai definisi al-Sunnah, secara umum dapat dikatakan bahwa al-Sunnah adalah sebuah istilah yang menunjuk kepada jalan Nabi SAW dan para shahabatnya, baik ilmu, amal, akhlak, serta segala yang meliputi berbagai segi kehidupan. Maka, berdasarkan keterangan di atas, ahl al-Sunnah dapat diartikan dengan orang-orang yang mengikuti sunah dan berpegang teguh padanya dalam segala perkara yang Rasulullah SAW dan para shahabatnya berada di atasnya (Ma ana ‘alaihi wa ashabi), dan orang-orang yang mengikuti mereka sampai hari Qiamat. Seseorang dikatakan mengikuti al-Sunah, jika ia beramal menurut apa yang diamalkan oleh Nabi SAW berdasarkan dalil syar’i, baik hal itu terdapat dalam alQur‟an, dari Nabi SAW, ataupun merupakan ijtihad para shahabat.

Adapun al-Jama’ah, berasal dari kata jama’a dengan derivasi yajma’u jama’atan yang berarti “menyetujui” atau “bersepakat”. Dalam hal ini, aljama’ah juga berarti berpegang teguh pada tali Allah SWT secara berjama‟ah, tidak berpecah dan berselisih. Pernyataan ini sesuai dengan riwayat Ali bin Abi Thalib yang mengatakan: “Tetapkanlah oleh kamu sekalian sebagaimana yang kamu tetapkan, sesungguhnya aku benci perselisihan hingga manusia menjadi berjamaa‟ah”.

Satu hal yang perlu dijelaskan adalah walaupun kata al-jama’ah telah menjadi nama dari kaum yang bersatu, akan tetapi jika kata al-jama’ah tersebut di sandingkan dengan kata al-sunnah, yaitu Ahl al-Sunah wa alJama’ah, maka yang dimaksud dengan golongan ini adalah mereka, para pendahulu umat ini yang terdiri dari para shahabat dan tabi‟in yang bersatu dalam mengikuti kebenaran yang jelas dari Kitab Allah dan Sunnah RasulNya.

Istilah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah sendiri, sebenarnya baru dikenal setelah adanya sabda Nabi SAW, yakni seperti pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Abu Dawud. Hadits tersebut yakni, hadits riwayat Ibnu Majah: Dari Anas ibn Malik berkata Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Bani Israil akan berkelompok menjadi 71 golongan dan sesungguhnya umatku akan berkelompok menjadi 72 golongan, semua adalah di neraka kecuali satu golongan, yaitu al-jama’ah”. Istilah tersebut bukan Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah tetapi al-jam’ah sebagai komunitas yang selamat dari api neraka. 7 Menurut hemat penulis meskipun secara tersurat penyebutan istilah dalam hadits tersebut adalah aljam’ah, tetapi secara tersirat yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Thursday, October 22, 2020

Contoh Metode Penafsiran Al-Quran

 

 Metode Penafsiran Al-Quran

 

A.    Contoh menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Quran

1.      Surat al-an’am ayat 82

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ࣖ - ٨٢

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.

Ditafsirkan menggunakan Surat Luqman ayat 13

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ - ١٣

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

2.      Surat Al-Maidah ayat 1

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ اُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيْمَةُ الْاَنْعَامِ اِلَّا مَا يُتْلٰى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّى الصَّيْدِ وَاَنْتُمْ حُرُمٌۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيْدُ - ١

Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji. Hewan ternak dihalalkan bagimu, kecuali yang akan disebutkan kepadamu, dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram (haji atau umrah). Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki.

Ditafsirkan dengan surat Al-maidah ayat 3

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَآ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْۗ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِۗ ذٰلِكُمْ فِسْقٌۗ اَلْيَوْمَ يَىِٕسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِۗ اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ - ٣

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barangsiapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

3.      Surat Al-Baqarah ayat 37

فَتَلَقّٰٓى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ - ٣٧

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.

Ditafsirkan dengan surat Al-A’raf ayat 23

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ - ٢٣

Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

4.      Surat Ad-Dukhan ayat 3

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ - ٣

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. ) Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.

Ditafsirkan menggunakan surat Al-Qadr ayat 1

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ - ١

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar.

 

5.      Surat At-Thariq ayat 1

وَالسَّمَاۤءِ وَالطَّارِقِۙ - ١

Demi langit dan yang datang pada malam hari.

Ditafsirkan dengan menggunakan surat At-Thariq ayat 3

النَّجْمُ الثَّاقِبُۙ - ٣

(yaitu) bintang yang bersinar tajam,

B.     Menafsirkan Al-Quran dengan Sunnah.

1.      Surat Al-fatihah ayat 4

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ - ٤

Pemilik hari pembalasan.

Ditafsirkan dengan hadist Riwayat Muslim no 3993

 

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَمْرٍو الْأَشْعَثِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لِأَحْمَدَ قَالَ الْأَشْعَثِيُّ أَخْبَرَنَا و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْنَعَ اسْمٍ عِنْدَ اللَّهِ رَجُلٌ تَسَمَّى مَلِكَ الْأَمْلَاكِ زَادَ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ فِي رِوَايَتِهِ لَا مَالِكَ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

قَالَ الْأَشْعَثِيُّ قَالَ سُفْيَانُ مِثْلُ شَاهَانْ شَاهْ و قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ سَأَلْتُ أَبَا عَمْرٍو عَنْ أَخْنَعَ فَقَالَ أَوْضَعَ

 

Terjemahan :

 

Telah menceritakan kepada kami [Sa’id bin ‘Amru Al Asy’atsi] dan [Ahmad bin Hanbal] serta [Abu Bakr bin Abu Syaibah]; Dan lafazh ini milik Ahmad. [Al Asy’atsi] berkata; Telah mengabarkan kepada kami. Sedangkan yang lainnya berkata; Telah menceritakan kepada kami [Sufyan bin ‘Uyainah] dari [Abu Az Zinad] dari [Al A’raj] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Sesungguhnya nama yang terburuk di sisi Allah Ta’ala ialah nama “Malikul Amlak” (Maha Raja Diraja); Ibnu Abu Syaibah menambahkan dalam riwayatnya; Tidak ada Raja selain Allah Azza wa Jalla. Al Asy’atsi berkata; Sufyan berkata seperti ‘Syahan Syah’ (Raja Diraja, persia). Dan Ahmad bin Hanbal berkata; Aku bertanya kepada Abu Amru mengenai arti ‘Akhna’ dia menjawab; Artinya adalah ‘Audha’ (paling buruk, paling rendahan, paling jorok).

 

 

2.      Surat Al-Baqarah ayat 30

 وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ - ٣٠

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Ditafsirkan menggunakan Hadist Riwayat Muslim 5075

صحيح مسلم ٥٠٧٥: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ هَذَا مَا حَدَّثَنَا بِهِ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ طُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا فَلَمَّا خَلَقَهُ قَالَ اذْهَبْ فَسَلِّمْ عَلَى أُولَئِكَ النَّفَرِ وَهُمْ نَفَرٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ جُلُوسٌ فَاسْتَمِعْ مَا يُجِيبُونَكَ فَإِنَّهَا تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ ذُرِّيَّتِكَ قَالَ فَذَهَبَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَقَالُوا السَّلَامُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ قَالَ فَزَادُوهُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ قَالَ فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا فَلَمْ يَزَلْ الْخَلْقُ يَنْقُصُ بَعْدَهُ حَتَّى الْآنَ

Shahih Muslim 5075: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi' telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Ma'mar dari Hammam bin Munabbih berkata: Inilah yang diceritakan oleh Abu Hurairah kepada kami dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam, ia menyebut beberapa hadits diantaranya: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda:

 

"Allah 'azza wa jalla menciptakan Adam seperti wujudnya, panjangnya enampuluh dzira'. Setelah menciptakannya, Allah berfirman: 'Pergilah lalu ucapkan salam pada mereka itu, mereka adalah kelompok malaikat yang tengah duduk lalu dengarkan jawaban mereka, itulah salammu dan salam keturunanmu." Beliau bersabda: "Adam pergi lalu mengucapkan: 'ASSALAAMU'ALAIKUM?' Mereka menjawab: 'ASSALAAMU 'ALAIKA WA RAHMATULLAAH.'" Beliau bersabda: "Mereka menambahi: 'WA RAHMATULLAAH.'" Beliau bersabda: "Setiap orang yang masuk surga wujudnya seperti Adam, panjangnya enampuluh dzira' dan setelahnya (Adam) postur tubuh (manusia) terus berkurang hingga sekarang."

 

3.      Surat Al-Baqarah ayat 50

 وَاِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَاَنْجَيْنٰكُمْ وَاَغْرَقْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ - ٥٠

Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, sehingga kamu dapat Kami selamatkan dan Kami tenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun, sedang kamu menyaksikan.

Ditafsirkan dengan menggunakan HR Muslim 1910

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ فَقَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْهَرَ اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ فَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَأَمَرَ بِصَوْمِهِ و حَدَّثَنَاه ابْنُ بَشَّارٍ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ نَافِعٍ جَمِيعًا عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَقَالَ فَسَأَلَهُمْ عَنْ ذَلِكَ

Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya] telah mengabarkan kepada kami [Husyaim] dari [Abu Bisyr] dari [Sa'id bin Jubair] dari [Ibnu Abbas] radliallahu 'anhuma, ia berkata; Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam belum lama tiba di Madinah, didapatinya orang-orang Yahudi berpuasa pada hari 'Asyura`. Lalu mereka pun ditanya (alasan apa mereka berpuasa di hari itu). Mereka menjawab, "Hari ini adalah hari kemenangan Musa dan Bani Isra`il atas Fir'aun. Karena itu, kami puasa pada hari ini untuk menghormati Musa." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Sesungguhnya kami lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian." lalu beliau perintahkan agar kaum muslimin puasa pada hari 'Asyura`. Dan Telah meceritakannya kepada kami [Ibnu Basysyar] dan [Abu Bakr bin Nafi'] semuanya dari [Muhammad bin Ja'far] dari [Syu'bah] dari [Abu Bisyr] dengan isnad ini, dan ia mengatakan; Maka beliau pun menanyakan hal itu pada mereka.

 

4.      Surat Al-Muthaffifin ayat 25

 يُسْقَوْنَ مِنْ رَّحِيْقٍ مَّخْتُوْمٍۙ - ٢٥

Mereka diberi minum dari khamar murni (tidak memabukkan) yang (tempatnya) masih dilak (disegel),

Ditafsirkan dengan menggunakan HR Muslim 3662

حَدَّثَنِي أَبُو الرَّبِيعِ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْعَتَكِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ أَخْبَرَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كُنْتُ سَاقِيَ الْقَوْمِ يَوْمَ حُرِّمَتْ الْخَمْرُ فِي بَيْتِ أَبِي طَلْحَةَ وَمَا شَرَابُهُمْ إِلَّا الْفَضِيخُ الْبُسْرُ وَالتَّمْرُ فَإِذَا مُنَادٍ يُنَادِي فَقَالَ اخْرُجْ فَانْظُرْ فَخَرَجْتُ فَإِذَا مُنَادٍ يُنَادِي أَلَا إِنَّ الْخَمْرَ قَدْ حُرِّمَتْ قَالَ فَجَرَتْ فِي سِكَكِ الْمَدِينَةِ فَقَالَ لِي أَبُو طَلْحَةَ اخْرُجْ فَاهْرِقْهَا فَهَرَقْتُهَا فَقَالُوا أَوْ قَالَ بَعْضُهُمْ قُتِلَ فُلَانٌ قُتِلَ فُلَانٌ وَهِيَ فِي بُطُونِهِمْ قَالَ فَلَا أَدْرِي هُوَ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ }

Telah menceritakan kepadaku [Abu Ar Rabi' Sulaiman bin Daud Al 'Ataki] telah menceritakan kepada kami [Hammad] -yaitu Ibnu Zaid- telah mengabarkan kepada kami [Tsabit] dari [Anas bin Malik] dia berkata, "Saya pernah menuangkan khamer kepada sekelompok kaum di rumah Abu Thalhah ketika khamer diharamkan, dan saat itu mereka tidak minum kecuali dari Fadlih (minuman keras yang terbuat dari perasan kurma), kurma muda dan kurma masak. Tiba-tiba ada seseorang yang berseru, lantas Abu Thalhah berkata, "Keluarlah dan lihatlah apa yang terjadi." Ternyata seseorang berseru, katanya, "Tidakkah khamer telah diharamkan." Anas berkata, "Kemudian berita itu tersebar ke seluruh Kota Madinah, lantas Abu Thalhah berkata kepadaku, "Keluar dan baunglah." Maka saya langsung menumpahkannya. Saat itu orang-orang berkata, atau sebagian dari mereka berkata, "Seseorang telah meninggal, sedangkan khamer tersebut masih dalam perut mereka." -Tsabit berkata; "Namun saya tidak mengetahui apakah itu termasuk dari hadits Anas- Maka Allah Azza Wa Jalla berfirman: '(Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan shalih karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa dan beriman serta beramal shalih …) ' (? Qs. Al Maidah: 93).

5.      Surat An-Naba’ ayat 31

 اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ مَفَازًاۙ - ٣١

Sungguh, orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan,

Ditafsirkan dengan HR Muslim 3341

و حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ عَنْ قَتَادَةَ أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ حَدَّثَهُمْ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ { إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ إِلَى قَوْلِهِ فَوْزًا عَظِيمًا } مَرْجِعَهُ مِنْ الْحُدَيْبِيَةِ وَهُمْ يُخَالِطُهُمْ الْحُزْنُ وَالْكَآبَةُ وَقَدْ نَحَرَ الْهَدْيَ بِالْحُدَيْبِيَةِ فَقَالَ لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آيَةٌ هِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا جَمِيعًا و حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ النَّضْرِ التَّيْمِيُّ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي حَدَّثَنَا قَتَادَةُ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ جَمِيعًا عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ نَحْوَ حَدِيثِ ابْنِ أَبِي عَرُوبَةَ

Telah menceritakan kepada kami [Nashr bin Ali Al Jahzhami] telah menceritakan kepada kami [Khalid bin Al Harits] berkata, telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin Abu 'Arubah] dari [Qatadah] bahwa [Anas bin Malik] telah menceritakan kepada mereka, dia berkata, "Ketika turun ayat: '(Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberikan ampunan kepadamu terhadap dosamu -hingga firmanNya- dengan pertolongan yang kuat (banyak).' (Qs. Al Fath: 1-3), ketika itu mereka baru pulang dari Hudaibiyyah dengan diliputi perasaan jengkel dan kesal, padahal mereka telah menyembelih binatang kurban. Maka beliau bersabda: "Sungguh telah turun kepadaku suatu ayat yang lebih aku cintai daripada dunia dan isinya." Dan telah menceritakan kepada kami ['Ashim bin An Nadlr At Taimi] telah menceritakan kepada kami [Mu'tamir] dia berkata; aku mendengar [ayahku] telah menceritakan kepada kami [Qatadah] dia berkata; aku pernah mendengar [Anas bin Malik]. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Al Mutsanna] telah menceritakan kepada kami [Abu Daud] telah menceritakan kepada kami [Hammam] (dalam jalur lain disebutkan) telah menceritakan kepada kami [Abd bin Humaid] telah menceritakan kepada kami [Yunus bin Muhammad] telah menceritakan kepada kami [Syaiban] semuanya dari [Qatadah] dari [Anas] sebagaimana hadits Ibnu Abu 'Arubah."

C.    Menafsirkan Al-Quran dengan pendapat Sahabat.

1.      Surat Al-Fatihah ayat 6

 اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ - ٦

Tunjukilah kami jalan yang lurus,

Ditafsirkan oleh Ibnu Mas’ud

Dalam konteks ayat tersebut Ibnu Mas’ud menafsiri lafad sirat al mustaqim dengan agama Islam (Abu Bakar as Suyuti, 2003: 76). Contoh di atas merupakan penafsiran dengan pendekatan bahasa untuk membatasi sebuah pemahaman agar tidak tercampur dengan pemahaman yang menyimpang dari agama. Dengan demikian dapat dipahamai bahwa jalan yang lurus yang dituju adalah agama Islam.

2.      Surat Al-Fatihah ayat 7

 صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ - ٧

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Ditafsirkan Oleh Ibnu Abbas

Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud orang yang diberi nikmat adalah para malaikat, Nabi, Shidiqqin, Syuhada’dan Shalihin yang selalu taat dan menyembah kepada Allah (Abu Bakar as Suyuti, 2003: 83). Ini merupakan upaya Ibnu Abbas memberikan sebuah penafsiran al Quran yang berhubungan dengan makna yang terkandung dalam suatu kata. Penafsiran tersebut termasuk dalam kategori penafsiran dengan pendekatan bahasa.

 

 

3.      Surat Al-Baqarah ayat 222

 وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ ۗ قُلْ هُوَ اَذًىۙ فَاعْتَزِلُوا النِّسَاۤءَ فِى الْمَحِيْضِۙ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ ۚ فَاِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ - ٢٢٢

Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, “Itu adalah sesuatu yang kotor.” Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.

Ditafsirkan oleh ‘Aisyah

‘Aisyah adalah termasuk kalangan dari sahabat yang dianggap sebagai penafsir al Quran. Ketika menafsirkan ayat di atas tentang perempuan haid. Menurut ‘Aisyah, perempuan bersuami yang sedang haid hendaknya mengencangkan kain sarung bagian bawah tubuhnya dan setelah itu sang suami boleh bercumbu dengannya, jika ia suka. Masruq pernah bertanya kepada ‘Aisyah, “Apa yang dihalalkan bagi laki-laki dari istrinya yang sedang haid?” ‘Aisyah menjawab, “boleh melakukan sesuatu yang lazim selain berhubungan seksual. Dengan kata lain, bahwa seorang suami dilarang menggauli istrinya yang sedang haid.

4.      Surat Al-Baqarah ayat 267

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji.

Ditafsirkan oleh Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi thalib menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sebagian dari usahanmu yang baik-baik adalah meliputi hasil emas dan perak. Kemudian dalam menafsirkan lafad wa mimma akhrajna lakum min al ard (sebagian dari apa yang Kami keluarkan) adalah meliputi biji-biji, kurma dan setiap sesuatu yang mewajibkan untuk mengeluarkan zakat (Abu Bakar as Suyuti, 2003: 253).

5.      Surat An-Nisa’ ayat 59

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ  فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Ditafsirkan oleh Abu Hurairah

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menafsiri dalam ayat diatas. Ia berkata bahwa yang dimaksud dengan mereka (ulil amri) adalah para pemimpin/ pemerintah (Ali Bin Khalaf, 2003: 209). Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Maimun bin Mihran.